Jumat, 24 Juli 2009

Onani Baik Untuk Perempuan

laki-laki sering kali saling meledek soal aktivitas seksual yang dilakukan sendiri ini. Namun jika mau jujur, sebenarnya mereka amat terbantu dengan kemampuan "swalayan" ini. Sementara itu, di kalangan perempuan, onani boleh dibilang amat jarang menjadi bahan perbincangan. Selain belum dapat dikatakan sebagai aktivitas yang lazim dilakukan, onani seolah juga masih tabu dibicarakan di kalangan perempuan. Padahal, onani memberikan manfaat yang sama besarnya bagi perempuan.

Tidak heran, para sex therapist pun tidak berhenti mengadakan penelitian mengenai aktivitas ini. Mereka merekomendasikan onani untuk perempuan yang mengalami kesulitan mencapai orgasme karena membantu mereka mengenali tubuh dan apa yang menyenangkan bagi mereka. onani pada perempuan dapat memberikan manfaat, baik bagi kesehatan, maupun hubungan perempuan dengan pasangannya. Apa saja manfaat tersebut?

1. perempuan dapat mencapai orgasme dengan onani.
Menurut dr Ferryal Loetan, ASC&T, SpRM, MKes-MMR (F), konsultan seksologi dan spesialis rehabilitasi medik dari RS Harapan Bunda, Jakarta, seperti dikutip tabloid Nakita, normal saja jika perempuan dapat mencapai orgasme dengan onani. Sama halnya dengan laki-laki yang bisa mendapatkan orgasmenya dengan onani. Namun, pada perempuan bisa dibedakan, ada orgasme yang terjadi akibat rangsangan klitoris, ada juga yang akibat rangsangan pada G-spot.

Namun, jika ingin mendapatkan orgasme ketika sedang berhubungan seks, lebih baik mencoba posisi yang lebih memusatkan rangsangan pada klitoris atau disebut CAT (coital alignment technique) seperti posisi doggy style. Saat melakukan hubungan seksual, perempuan bisa mendapatkan orgasme dari rangsangan ke klitoris dan juga ke G-spot. Orgasme karena rangsangan ke klitoris namanya orgasme klitoral, sedangkan yang ke G-spot disebut orgasme memekal. Kalau bisa keduanya dilakukan berbarengan akan lebih asyik lagi bagi perempuan karena orgasmenya menjadi dobel (berkali lipat). Untuk ini, banyak teknik yang bisa dilakukan, yang intinya bisa mengenai kedua tempat tersebut secara bersamaan. Caranya dengan melatih keterampilan bersama.

2. Orgasme lebih cepat didapatkan saat onani.
Menurut dr Ferryal, orgasme yang diperoleh saat onani bisa lebih cepat daripada yang diperoleh saat berhubungan intim dengan pasangan. Sebab pada dasarnya perempuan memang butuh waktu yang lebih lama dibandingkan laki-laki untuk bisa mencapai keadaan "panas". Perlu dipahami, dengan onani, rangsangan biasanya langsung tertuju ke daerah alat kelamin dan tempat-tempat tertentu sehingga memudahkan terjadinya orgasme.

3. onani pada perempuan dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Menurut penelitian, kebanyakan perempuan pernah beronani setidaknya sekali dalam hidup mereka. Frekuensi dan usia saat melakukannya bervariasi, tidak ada patokan normal mengenai hal tersebut. Banyak perempuan merasa bersalah saat melakukan onani, khususnya ketika mereka sebenarnya sudah berpasangan. Namun menurut sex therapist, perempuan tak perlu merasa bersalah. Sebab pasangan bisa saja sedang lelah, sedang ke luar kota, pokoknya sedang enggak "available". Jadi, jika kita memang sedang "ingin", onani bisa jadi jalan keluarnya.

onani juga bisa dilakukan dengan metode apa saja. "Cara apa pun bisa dianggap normal," ungkap Paul Joannides, PsyD, seorang psychoanalyst di Waldport, Ore.

Dari survei diketahui, jari tangan dan vibrator adalah dua metode yang umum digunakan dalam onani perempuan. Lebih dari separuh dari 2.056 perempuan, berusia 18-60 tahun, menggunakan vibrator, baik saat beronani, maupun intercourse. Demikian menurut Debby Herbenick, PhD, MPH, Associate Director dari Center for Sexual Health Promotion di Indiana University, Bloomington, yang memimpin survei tersebut. Sebanyak 30 persen dari perempuan yang disurvei menyatakan pernah memakai vibrator.

Beberapa ahli sebenarnya mengkhawatirkan efek samping dari penggunaan vibrator, seperti sakit atau mati rasa pada alat kelamin. Adapun Frank Sommers, MD, seorang psikiater di Toronto, mengatakan bahwa penggunaan vibrator yang terlalu sering saat onani akan mengurangi kemampuan perempuan mencapai orgasme dengan pasangan. Menurutnya, penggunaan vibrator berlebihan dapat membiasakan sistem saraf otonomik pada suatu stimulasi yang tak dapat dilakukan oleh manusia.

4. onani dapat memperbaiki mood, tanpa kewajiban melakukan seks berpasangan.
"onani dapat memperbaiki mood yang turun," ungkap Kathleen Segraves, PhD, sex therapist dan guru besar tamu bidang psikiatri di Case Western Reserve University. "Dengan solo sex, perhatian tidak akan teralih, dan Anda bisa fokus pada pengalaman Anda sendiri tanpa perlu memastikan pasangan juga menikmati atau tidak," tambahnya. Hal ini tidak perlu diartikan Anda tidak memedulikan pasangan. Namun, bahwa sekali-sekali Anda juga boleh kok memikirkan diri sendiri, begitu kata para pakar.

5. onani dapat memperbaiki kehidupan seks bersama pasangan.
perempuan yang beronani secara rutin dapat mempelajari apa yang menyenangkan untuk mereka. Hal itu dikatakan Segraves. "Hal itu dapat membantu kepercayaan diri secara seksual, dan membantu membimbing pasangan jika Anda memiliki pasangan," ujarnya. Sebagai contoh, Anda bisa mengatakan pada pasangan, "Taruh tanganmu di sini," tanpa merasa malu, kata Segraves.

Sedangkan Herbenick menambahkan, perempuan yang menggunakan vibrator selama onani cenderung memiliki fungsi seksual yang lebih baik bersama pasangan. Ia mendapati bahwa perempuan yang menggunakan vibrator mendapatkan fungsi seksual yang lebih baik dalam hal pelumasan memek, hasrat, bangkitnya gairah, dan kemudahan orgasme, dan mereka cenderung tidak mengalami sakit atau ketidaknyamanan yang didapat saat intercourse.

6. onani membantu Anda rileks.
Saat menghadapi hari yang menyebalkan, perempuan sering terpengaruh, dan berpikir, "Bagaimana ya, harus memperbaikinya?" Menurut para peneliti, dibandingkan laki-laki, perempuan lebih mungkin mengingat-ingat perdebatan atau hubungan yang buruk dengan orang lain. Hal inilah yang menyebabkan stres. Jika Anda bisa mulai menyenangkan diri sendiri, Anda dapat meredakan stres yang diakibatkan oleh pikiran-pikiran semacam itu. Memang tidak selamanya dapat mengatasi, tetapi setidaknya dapat membantu. Demikian menurut Segraves.

7. onani dapat mengurangi nyeri saat haid.
Kebiasaan beronani dilaporkan dapat membantu mengurangi kram perut saat menstruasi, dan memperbaiki gejala PMS lain, seperti rasa mudah marah atau mudah tersinggung. onani yang berlanjut hingga orgasme bahkan dapat membantu mengurangi migrain. Meskipun orgasme kadang-kadang ditemukan sebagai pemicu migrain, aktivitas tersebut juga dapat menguranginya. Demikian menurut beberapa penelitian. Para ilmuwan berspekulasi bahwa beberapa faktor yang dikaitkan dengan orgasme (sendiri atau bersama pasangan) dapat menyembunyikan rasa sakit, atau proses migrain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar